Keluar Bersama Keringatnya

2 04 2007

Keluar Bersama Keringatnya

KEMATIAN dan matahari tak dapat ditatap terus-menerus.” Ucapan penulis
Prancis, La Rochefoucauld, yang tertulis pada buku Metode Menjemput Maut
Perspektif Sufistik Al-Ghazali itu secara utuh mencerminkan sikap manusia
modern terhadap persoalan yang menggugah sekaligus paling menakutkan:
kematian!
Buku terbitan Mizan itu setidaknya mengingatkan kita tentang betapa singkat
dan rentannya kehidupan ini, yang mungkin tidak menggembirakan atau malah
mendatangkan perasaan tidak nyaman. Karya teolog Islam yang hampir 900 tahun
ini tetap relevan disimak. Al-Ghazali adalah tokoh yang mengesankan. “Karena
dia, orang lumpuh bisa berlari. Dan si bisu mampu bernyanyi.”

Di buku ini, Al-Ghazali membawa pembaca mengunjungi tingkatan alam sesudah
mati: pertemuan dengan malaikat di alam kubur, hari kebangkitan, syafaat
Nabi,
siksaan neraka, keindahan surga, dan -bagi orang yang terpilih- melihat
wajah
Tuhan.

Sufisme memang mewarnai karya-karyanya. Simak penuturannya ketika Ibn
Al-Munkadir menangis di ambang ajalnya. “Demi Allah, aku tidak menangisi
suatu
dosa yang kusadari telah kulakukan, namun aku takut diriku telah melakukan
sesuatu yang kuanggap remeh, padahal di sisi Tuhan itu adalah sesuatu yang
besar,” kata Al-Munkadir.

Keputusan Al-Ghazali mengabdikan hidupnya kepada sufisme terutama
dipengaruhi
kesadarannya pada kepastian datangnya maut dan hari kiamat. Ia mengutip
ucapan
Aisyah r.a. kepada Nabi Muhammad SAW: “Wahai Rasulullah, adakah orang yang
akan dibangkitkan bersama syuhada?” “Ada,” jawab Beliau, “Yaitu orang yang
mengingat maut dua puluh kali dalam sehari semalam.”

Lalu, dikisahkan mengenai Al-Rabi’ bin Khutsaim menjemput maut. Dia menggali
kubur di dalam rumahnya. Dan setiap malam dia terbiasa tidur di situ agar
terus-menerus mengingat kematian. “Sekiranya ingatan akan maut hilang dari
hatiku untuk sesaat saja,” demikian dia sering berkata, “Niscaya hatiku akan
menjadi rusak.”

Rasulullah pernah berkata kepada Abdullah bin Umar: “Di pagi hari janganlah
engkau berbicara dengan dirimu sendiri tentang petang nanti, dan pada petang
hari tentang pagi hari nanti. Ambillah dari hidupmu sesuatu untuk matimu,
dari
kesehatanmu sesuatu untuk masa rentamu karena sesungguhnya, wahai Abdullah,
engkau tidak mengetahui dengan sebutan apa engkau akan dipanggil esok hari.”

Maka, sebelum ajal tiba, Al-Ghazali mengingatkan lima nasihat dari Nabi
Muhammad SAW: “Manfaatkanlah lima hal sebelum tiba lima hal yang lain: masa
mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu
sakitmu,
kekayaanmu sebelum datang kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum datang waktu
sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.”

Kemudian, Ali r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Dua hal yang
paling
kutakuti dari kamu semua, melebihi sesuatu yang lain; menuruti hawa nafsu
dan
berpanjang angan-angan. Sebab, menuruti hawa nafsu akan menghalangi orang
dari
kebenaran, sedangkan berpanjang angan-angan berarti mencintai duniawi.”

Dengan mencintai duniawi seseorang akan berat berpisah dengannya, sehingga
hatinya akan enggan berpikir tentang kematian. Atau dia membenci dan
menghindar darinya.

Dia akan terus mengulur-ulur waktu, dan melalaikan dirinya. Dia menjadi
terikat oleh kesibukan duniawi. Padahal, tak seorang pun yang dapat
memuaskan
hasratnya, sebab satu hasrat akan disusul oleh hasrat lainnya. Sampai
akhirnya
dia disambar oleh kematian pada saat yang tak pernah diperkirakannya. Dan
ketika itu, dia pun hanya bisa meratap menyesalinya.

“Manusia itu seakan-akan dikepung oleh sembilan puluh sembilan macam sebab
kematian, jika kesemua sebab itu gagal mengenainya, dia pasti tidak bisa
mengelak dari usia tua,” kata Nabi.

Nabi pernah bersabda: “Perhatikanlah tiga tanda pada orang yang sekarat.
Jika
keningnya berkeringat, matanya basah oleh air mata, dan bibirnya mengering,
berarti rahmat Allah SWT telah turun kepadanya. Akan tetapi, jika dia
kelihatan seperti orang yang dicekik-cekik, warna kulitnya memerah dan
mulutnya berbusa, maka itulah siksaan Tuhan yang ditimpakan kepadanya.”

Menjelang Nabi Muhammad SAW wafat pada Senin siang -umat ini selalu ditimpa
bencana besar pada Senin- maka Aisyah bertanya kepada Muhammad: “Alangkah
derasnya keringat di kening Anda.” Jawab Beliau, “Wahai Aisyah, roh orang
beriman keluar bersama keringatnya, sedangkan roh orang kafir keluar melalui
kedua rahangnya seperti nyawa keledai.”

Widi Yarmanto


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.