Renungan Sufisme

Ada Apa Dengan Sufi
  • Beranda
  • About

Iblis Laqnat

4 04 2007

oleh Mohamed Yosri bin Mohamed Yong

Maka bersabda kepada Rasulullah s.a.w segala persetua turun Malaikat Jibrail kepada Iblis dengan firman Allah Ta’ala : 

Maka ujar malaikat, “Hai Iblis ! Pergilah engkau kepada Nabi Allah Muhammad Rasulullah s.a.w dengan firman Allah Ta’ala. Apabila engkau sampai kepada Rasulullah s.a.w jika Nabi Allah bertanya kepada mu dengan suatu tanya, maka sahuti oleh mu dengan kata sebenar-benarnya. Dan jikalau kamu berdusta kepada Nabi Allah Adam yang Maha Besar dan jikalau engkau berdusta kepada Rasulullah s.a.w daripada suatu tanya oleh Nabi Allah itu atau dengan sepatah kata daripada barang siapa bagi juga engkau berdusta, nescaya diputuskan segala urat mu, ku hancurkan segala tubuhmu, ku jadikan seperti habuk.” 

Setelah Iblis mendengarkan Malaikat, mereka itu pun segera ia pergilah kepada Rasulullah s.a.w serta ia datang.

Maka iapun memberi salam, ujarnya, “Assalamualaikum ya Rasulullah.” 

Maka salamnya itupun tiada disahuti oleh Rasulullah. 

Maka sabda Rasulullah s.a.w, “Siapa engkau ?” 

Maka sahut Iblis, “Hamba seorang daripada hamba Allah yang bernama Hakir.” 

Maka ia itu pun duduk dengan hormatnya mengadap kepada Rasulullah. Rupanya seperti darwish fakir, peri lakunya itu seperti orang tua dan matanya buta sebelah dan helai janggutnya itupun adalah seperti helai dan panjangnya ekor kuda. 

Maka ujarnya Iblis, “Ya Rasulullah, bahwa salam itu rahmat Allah, mengapa maka tiada tuan hamba sahuti ?” 

Maka sabda Rasulullah, “Sebenarnyalah katamu itu, tetapi rahmat Allah Ta’ala telah diharamkan Allah atasmu sekalian. Engkau seteru Allah yang kena akan laqnatnya. Apakah engkau datang ini kepada aku ?” 

Maka ujar Iblis, “Ya Rasulullah, pada hari ini datang seorang Malaikat kepada hamba dengan firman Allah Ta’ala, demikian katanya : “Hai Iblis ! Pergilah engkau kepada Nabi Allah Muhammad Rasulullah maka segala Nabi Allah Muhammad. Maka sahuti olehmu dengan kata sebenarnya dan jangan engkau berdusta. Jikalau engkau berdusta nescaya segala uratmu diputuskan dan bahwasanya tubuhmu pun ku hancurkan menjadi habuk.” Demikian katanya Malaikat kepada hamba ya Rasulullah.” 

Maka Rasulullah pun tersenyum-senyum mendengarkan Iblis itu. 

Maka sabda Rasulullah, “Hai Iblis ! Ku bertanya kepada mu, siapakah engkau punya seteru yang terlebih kepada mu ?” 

Maka ujarnya, “Ya Rasulullah, tuan hambalah yang terlebih daripada seteru ku kerana bahwasanya tatakala tuan hamba belum dzahir, maka segala manusia mahu ia menurut kataku lagi.” 

Maka sabda Rasulullah, “Hamba lain daripada aku, siapa lagi seteru mu ?” 

Maka ujarnya Iblis, “Segala orang yang muda-muda yang menahani hatinya daripada takut kepada Allah Ta’ala seperti dengan amalnya yang salih dengan sentiasa berhadap kepada Tuhan seru sekalian alam juga. Itulah seteru hamba.” 

Maka sabda Rasulullah, “Adalagi lain daripada itu, siapa seteru mu ?” 

Maka sembah Iblis, “Iaitu segala raja-raja yang adil.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apa sebabnya demikian itu ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Bahwa raja-raja itu kepada sehari-hari ia menghukumkan segala manusia yang tiada mahu menurut kata ku lagi.” 

Maka sabda Rasulullah, “Daripada itu, siapa lagi seteru mu ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Lagi segala fakir yang sabar.”

Maka sabda Rasulullah, “Apa sebabnya demikian itu kepada mu ? “ 

Maka sembahnya, “Segala barang hajat ku, tiada diqabulkan, menjadi ia putus harap ku.” 

Maka sabda Rasulullah, “Lain daripada itu siapa lagi seteru mu ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Itu segala orang kaya-kaya yang murah hati, dikeluarkannya hak Allah Ta’ala daripada hartanya yang halal.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apa sebabnya demikian itu ?” 

Maka sembah Iblis, “Apabila datang fakir dan miskin kepadanya, maka segala fakir itu meminta doa akan dia.”

Maka sabda Rasulullah, “Lain daripada itu siapa lagi seteru mu ?” 

Maka sembah Iblis itu, “Segala ulamak yang menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram dan mengamalkan ilmunya kepada orang yang dungu.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apa sebabnya demikian itu ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Ya Nabi Allah, adapun segala ulamak itu pagi dan petang dan senantiasa ia berbuat dengan ibadat kepada Allah dan menunjukki segala manusia kepada jalan yang sebenarnya. Nescaya mereka itu tiada dapat ku perintah lagi.” 

Maka sabda Rasulullah, “Lain daripada itu, siapa lagi seteru mu ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Itulah segala mukmin yang adzan pada tiap-tiap waktu.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apa sebabnya yang demikian itu ?” 

Maka sembahnya Iblis itu, “Ya Nabi Allah, apabila hamba menyuruh kepada jalan yang dusta, maka ia menyuruh kepada jalan yang sebenar, maka segala ia menyebut “Allahu Akbar”, maka orang itulah lepas daripada tangan hamba.” 

Maka sabda Rasulullah, “Lain daripada itu, siapa lagi seteru mu ? “ 

Maka sembahnya Iblis, “Segala orang yang telah senantiasa ia didalam air sembahyang serta ingat akan dia waktunya, itulah memberi penyakit kepada hamba.” 

Maka sabda Rasullalllah, “Hai Malaun, apabila umatku berdiri sembahyang betapa halmu ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Ya Nabi Allah, lemahlah segala anggota hamba dan gementar segala sendiku.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apabila umatku membaca Al-Quran, betapa rasanya ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Hancurlah rasanya tubuh hamba ya Rasulullah.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apabila umatku naik Haji, betapa halmu ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Ketika itu lelah lentuklah rasanya hatiku.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apabila Puasa betapa rasanya halmu ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Pada ketika itu adalah seperti digelang oranglah mulutku.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apabila umatku memberi sedekah betapa halmu ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Adapun pada ketika itu adalah seperti dipenggal-penggallah segala badanku demikian sakitnya ya Nabi Allah, kerana sedekah itu tujuh perkara faedahnya : 

Pertama, qabulkan Allah dengannya dan
Kedua dilanjutkan Allah umurnya dan
Ketiga ditambahi Allah berkatnya orang itu dan
Keempat diluputkan Allah daripada segala bahaya dan
Kelima didindingi Allah daripada api Neraka dan
Keenam dimasukkan Allah ia kepada kaum yang salih dan
Ketujuh ditambahi hamba Allah cahayanya kepada hari Qiamat.” 

Maka sabda Rasulullah tersenyumlah mendengar kata Iblis itu.

Maka sabda Rasulullah dengan sahabat yang empat itu, “Betapa engkau kepadanya ?”

Maka sembahnya Iblis itu, “Ya Nabi, yang empat itu,

Adapun akan Abu Bakar as-Siddiq, tatakala ia belum lagi masuk kepada tuan hamba itupun, tiada ia menurut kata ku, istimewa sekarang ini. 

Adapun akan Omar anak Khattab, selama ia masuk kepada tuan hamba, jangankan ia mengikut kata hamba, hampir pun hamba sekali-kali tiada dapat kepadanya. Bermula segala tempat yang dijalaninya itu pun empat puluh hari tiada dapat dirasanya. 

Adapun akan Usman anak Affan, telah dimashyurkan maka sebab seterunyalah hamba, dan terlebih terlalu amat malu kepadanya. 

Adapun Ali Karamullah wajahnya itu sekali-kali tiada dapat hampir kepadanya. 

Adapun kata mereka itu Shafa’at Aulia Allah dan martabat Anbiya Allah dan lagi sentiasa hampir kepada tuan hamba ya Nabi Allah.” 

Maka sabda Rasulullah, “Akan segala umatku betapa engkau ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Ya Nabi Allah bahwa umat tuan hamba atas tiga perkara suka : 

Pertama-tama yang suka itu, segala-gala tiada dapat hampir hambamu kepadanya dan doanya pun terlebih diperkenankan Allah Ta’ala dan diturunkan hujan mereka itu menambahkan segala tumbuh-tumbuhan. Dan segala bala itu pun ditolakkan Allah daripada berkat doa. Yang suka lagi daripada umat tuan hamba, yang kasih akan tuan hamba, lagi ia senantiasa dengan berbuat ibadat kepada Allah Subahanahu Wa ta’ala serta dengan taatnya.

Maka mereka itu pun tiada ia mahu menurut kataku. Dan yang suka lagi daripada umat mu itulah ia diserahkan Allah Ta’ala mereka itu dalam tanganku tiada lain dipermulianya, hanya aku juga. Seketika mereka itu tiada bercerai daripada aku. Hamba pun tiada bercerai daripadanya. 

Maka sabda Rasulullah, “Hai Malaun, betapa engkau sampai kepada segala mahkluk sekalian ?” 

Maka ujarnya, “Ya Rasulullah, pada paha kanan akan laki-laki dan paha kiri perempuan. Maka apabila hamba mu hendak menjadikan anak, maka dengan sekali gosok jua daripada paha hamba kedua, maka ia seribu anak jadi daripada hamba dengan kebesaran Allah Ta’ala. Maka pada sehari anak Adam itu aku binasakan, tiada lah mereka itu berbuat bakti akan Allah Ta’ala. Itulah sekali-kali dengan hamba dan barang kehendak hamba diturutinya. 

Adapun sekarang segala orang muda itu hamba perlakikan dengan permainan dunia, bertambah-tambah sesatnya kerana sentiasa dalam pekerjaan yang sia-sia. Dan segala mereka itu yang tua-tua hamba suruh dengan berbesar lobanya dan dustanya, dengan menjadi cermin anak isteri orang dengan barang suatu pekerjaan yang tiada diperkenankan Allah. Dan kebajikan tuan hamba seorang hendak ia berbuat ibadat ;
maka pada seketika itu hamba suruhkan segala shaitan daripada anak cucu hamba menyesatkan dia. Dan apabila umat tuan hamba hendaklah berdiri sembahyang, maka suruh shaitan kepadanya mengikatkan lagi lancar. Maka ia menjadi lalai-lalai dengan pekerjaan dunianya hingga lagi lalai waktu diamar Tuhan yang Maha Besar. Demikianlah pekerjaan hamba datang kepada hari Qiamat.” 

Maka sabda Rasulullah, “Betapa mengetahui perbuatan umatku baik dan jahat ?” 

Maka sembahnya, “Jangankan ia perbuatan umat tuan hamba, sedangkan perbuatan junjungan kau lagi ku ketahui.

Adapun segala umat tuan hamba yang fasik,
yakni segala mereka itu tiada sembahyang
dan yang dengkikan samanya manusia
dan yang menaruh dendam
dan yang menghukumkan dengan tiada sebenar
dan yang derhaka akan ibu bapanya
segala mereka itu yang berdusta
dan yang mengumpat-umpat dan fitnah
dan yang bersumpah-sumpah dengan dustanya sekalian
itulah nyatanya kepada hamba.” 

Maka sabda Rasulullah, “Hai Iblis, apa yang menjauhkan kepada mu ?” 

Maka sembahnya, “Iaitu orang yang mengucap Istighfar.” 

Maka sabdanya Rasulullah, “Apa yang membinasakan engkau ?” 

Maka sembahnya, “Iaitu orang yang memberi sedekah.” 

Maka sabdanya Rasulullah, “Apa yang membinasakan matamu ?” 

Maka sembahnya, “Iaitu orang yang berbuat bakti pada ibu bapanya.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apa yang membelah-belah hatimu ?” 

Maka sembahnya, “Iaitu segala orang yang duduk didalam masjid mengatakan ilmu Allah Ta’ala.” 

Maka sabda Rasulullah, “Yang menghitamkan mukamu ?” 

Sembahnya, “Iaitu seorang yang berbuat baik.” 

Maka sabda Rasulullah, “Siapa yang membelah dikau ?” 

Maka sembahnya, “Iaitu orang yang membaca Quran.” 

Maka sabda Rasulullah, “Siapa yang membalikkan dikau kebawah tujuh petala bumi?” 

Maka sembahnya, “Iaitu orang yang taubat daripada dosanya.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apakah yang engkau aku ? “ 

Maka sembahnya, “Iaitu orang yang bertanya Ia itu. “ 

Maka sabda Rasulullah, “Siapakah taulan mu ? “ 

Sembahnya, “Iaitu mereka itu yang minum tuak dan arak.” 

Maka sabda Rasulullah, “Siapakah yang bersama-sama dengan engkau ? “ 

Maka sembahnya, “Iaitu sekalian mereka itu yang sentiasa berbuat haram.” 

Maka sabda Rasulullah, “Siapakah yang memberi engkau nasihat akan dikau ?” 

Maka sembahnya, “Iaitu mereka itu yang mengamalkan curang. “ 

Maka sabda Rasulullah, “Siapakah yang memberi suka engkau ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Segala mereka itu yang berbuat fitnah. “ 

Maka sabda Rasulullah, “Siapa suka duduk dengan engkau ? “ 

Maka sembahnya Iblis, “Itulah segala mereka itu laki-laki dan perempuan yang durjana.” 

Maka sabda Rasulullah, “Siapakah yang memberi kuat akan engkau ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Iaitu sekalian mereka itu yang sentiasa mengumpat-umpat orang.” 

Maka sabda Rasulullah, “Siapakah yang menerangkan matamu ?” 

Maka sembah Iblis, “Iaitu sekalian mereka itu yang bersumpah dengan tiada sebenar-benarnya dusta.” 

Maka sabda Rasulullah, “Siapa memberi sihat akan dikau ?”

Maka sembahnya Iblis, “Iaitu segala yang ghaib-ghaib. “ 

Maka sabda Rasulullah, “Siapakah yang terlebih engkau kasihi ?” 

Maka sembahnya, “Segala mereka itu yang seteru Allah dan lagi seteru tuan hamba.” 

Maka sabda Rasulullah, “Siapa yang terlebih baik kepada mu ? “ 

Maka sembahnya, “Sekalian yang gemarkan perbuatan zina.” 

Maka sabda Rasulullah, “Di mana masjid mu ? “ 

Maka sembahnya, “Kepada segala pekan.” 

Maka sabda Rasulullah, “Siapa puja mu ? “ 

Maka sembahnya, “Iaitu orang penyanyi.” 

Maka sabda Rasulullah, “Akan bunyi-bunyian itu ?” 

Maka sembahnya, “Segala mereka itu yang suka gosok rebab dan kecapi dan memalu bunyi-bunyian.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apa akan dia kitabmu ?” 

Maka sembahnya, “Iaitu segala orang yang berdendang. “ 

Maka sabda Rasulullah, “Siapakah yang jadi kaum mu ? “ 

Maka sembahnya, “Segala mereka itu yang makan harta anak yatim.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apakah dia makanan mu ? “ 

Maka sembahnya, “Iaitu benda yang dikurungkan dan segala yang kesakitannya.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apakah dia minuman mu ? “ 

Maka sembahnya Iblis, “Iaitu arak dan tuak dan anggur.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apakah benda-benda hartamu ?” 

Maka sembahnya, “Iaitu orang yang kaya-kaya lagi bakhil.” 

Maka sabda Rasulullah, “Apakah nyawa mu ? 

Maka sembahnya, “Segala yang jadi jaruman orang. “ 

Maka sabda Rasulullah, “Apakah kekayaanmu ?” 

Maka sembahnya, “Perampasan dan penyamun.”

Maka sabda Rasulullah, “Apakah dia kemuliaan mu ?”

Maka sembahnya, “Segala mereka itu yang mencuri.”

Maka sabda Rasulullah, “Apakah akan Shahadat mu ? ”

Maka sembahnya Iblis, “Iaitu segala orang yang buang air mengadap Qiblat.”

Maka sabda Rasulullah, “Apakah dia permainanmu ? ”

Maka sembahnya, “Iaitu segala orang yang buang air sambil berdiri.”

Maka sabda Rasulullah, “Apakah tasbihmu ?”

Maka sembahnya, “Iaitu segala mereka itu yang buang air dengan berkata-kata.”

Maka sabda Rasulullah, “Apakah dia keredhaanmu ?”

Maka sembahnya, “Iaitu segala mereka itu menegah Tuhannya.”

Sabda Rasulullah, “Apakah itu pekerjaanmu ? ”

Maka sembahnya, “Iaitu sekalian orang bermain-mainan janggutnya tatakala ia sembahyang.”

Maka sabda Rasulullah, “Apakah kebesaran mu ? ”

Maka sembahnya, “Segala mereka itu yang tidur pada waktu Subuh tiada mahu segera bangun.”

Maka sabda Rasulullah, “Apakah dia kesukaan mu ? ”

Maka sembahnya, “Segala mereka tidur seraya-raya ia memasukkan tangannya kecelah pehanya.”

Maka sabda Rasulullah, “Siapakah saudara mu ? ”

Maka sembahnya, “Iaitu segala laki-laki yang jimak dengan isterinya tiada dahulu menyebut nama Allah.”

Maka sabda Rasulullah, “Berapa banyak samamu ?”

Maka sembahnya, “Ya Nabi Allah, iaitu orang-orang anak Adam sepuluh orang baik-baik, hamba suruh bersamaan dengan dia pada jalan menyesatkan mereka itu kepada jalan yang tiada dia diperkenankan Allah dengan tuan demikian juga.”

Maka sabda Rasulullah, “Apa yang menyiksakan engkau ?”

Maka sembahnya, “Iaitu segala mereka itu sentiasa menshahadat dan meratib kehadrat tuhannya, seketika itupun tiada daripada lidahnya dengan menyebut dan dzikir dan selawat akan tuan hamba ya Nabi Allah. Itulah yang terlebih siksa kepada hamba.”

Maka sabda Rasulullah, “Apa yang memucatkan muka mu ? ”

Maka sembahnya, “Iaitu mereka itu yang sembahyang awal-awal waktu.”

Maka sabda Rasulullah, “Siapa umatku yang terlebih engkau benci akan dia ? ”

Maka sembahnya, “Segala orang yang mudah berbuat taat dan ibadat.” 

Maka sabda Rasulullah, “Siapa yang terlebih sangat engkau kasih ?”

Maka sembahnya, “Mereka itu yang dengki samanya manusia lagi membukakan aib segala saudara Islam.” 

Maka sabda Rasulullah, “Siapakah sahabatmu yang terlebih kepadamu ? ”

Maka sembahnya, “Iaitu segala laki-laki dan perempuan yang tiada suci daripada junub dan kotor dan nafsu.”

Maka sabda Rasulullah, “Siapa seteru mu yang terdekat kepadamu ?”

Maka sembahnya, “Iaitu segala perempuan yang berbuat bakti suaminya.”

Maka sabda Rasulullah, “Apakah dia perhiasan mu ? ”

Maka sembahnya, “Iaitu perempuan yang menghias dirinya sebab laki-laki yang lain.”

Maka sabda Rasulullah, “Hai Iblis ! Adakah perempuan yang lepas daripada tanganmu itu ?”

Maka sembahnya, “Ya Nabi Allah,
Pertama Siti Maryam
Kedua Khadijah
Ketiga Siti Aisyah
Keempat Siti Fatimah Radiallah.” 

Maka sabda Rasulullah, “Hai Iblis ! Siapakah berperseterumu daripada umatku ?” 

Maka sembahnya, “Ya Nabi Allah ! Ada sembilan perkara, 

Pertama penyayang hatinya
Kedua orang mengajar ilmu
Ketiga orang yang membaca Quran
Keempat orang yang alim
Kelima orang merendahkan dirinya kerana ia takut akan Allah s.w.t
Keenam orang yang menshahidkan pada jalan Allah s.w.t
Ketujuh orang yang senantiasa sembahyang lima waktu
Kelapan perempuan yang berbakti kepada suaminya dan pada Allah
Kesembilan orang yang tiada meninggalkan sembahyang Jumaat.” 

Maka sabda Rasulullah, “Hai Iblis ! Siapa kekasihmu daripada umatku ?” 

Maka sembahnya Iblis, “Ya Nabi Allah ! Sepuluh perkara : 

Pertama-tama segala raja-raja yang aniaya
Kedua pendita yang ingin akan dunia
Ketiga saudagar yang khianat
Keempat orang kaya bakhil
Kelima orang yang minum arak dan tuak
Keenam orang yang pada zahirnya baik batinnya jahat
Ketujuh perempuan yang menyakiti hati suaminya
Kelapan orang yang bersumpah-sumpah dustanya
Kesembilan orang yang tiada memberi zakat hartanya
Kesepuluh orang yang tiada sembahyang akan dia sembahyang Jumaat.”

Tamat pada malam Isnin bulan Maulud tanggal enam hari tahun 1826.


Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »

Kategori : Hikayat

Keteladanan Anjing

4 04 2007

Anjing adalah binatang yang mengandung najis mugholadzah. Maka bila kita terkena najis ini untuk mensucikannya harus dicuci tujuh kali dan cucian pertamanya harus dicampur dengan debu.Namun demikian anjing adalah juga mahluk Allah swt. Dan semua mahluk Allah swt. diciptakan untuk memberikan manfaat bagi manusia. Apakah manfaat dari seekor anjing, selain manfaat fisik sebagai penjaga dan pemburu, manfaat yang lain adalah sebagaimana uraian dari Syech Muhammad Nawawi al Jawi, seorang ulama Indonesia yang menjadi imam di Mekah. Dalam salah satu karyanya yang berjudul : Syarhu Kaasyifatus Sajaa ‘alaa Safiinatin Najaa fii Ushuulud Diini wal Fiqhi’, beliau menulis didalam seekor anjing terdapat sepuluh sifat keteladanan yang seharusnya dimiliki oleh seorang insan beriman, yaitu :

  1. Gemar mengosongkan perut. Ini adalah salah satu sifat orang shaleh.
  2. Tidak tidur malam kecuali sedikit. Ini adalah sifat dari ahli tahajud.
  3. Kalaupun sehari diusir seribu kali, ia tidak akan hengkang dari pintu rumah tuannya. Ini adalah sifat dari orang yang shidiq.
  4. Pantang meninggalkan warisan setelah kematiannya. Ini adalah sifatnya ahli zuhud.
  5. Merasa puas meski menempati bumi ditempat yang paling hina sekalipun. Ini adalah tanda dari orang yang ridha dengan ketentuan Allah.
  6. Memandangi setiap orang yang memandanginya sampai dilemparkan kepadanya sesuap makanan. Ini adalah sikap ahlaq manusia masa kini.
  7. Kalaupun diusir dan ditaburi debu, ia tak akan marah dan mendendam pada tuannya. Ini adalah ahlaqnya orang-orang yang asyik
  8. Bila tempatnya ditempati yang lain, maka ia dengan rela menyingkir ke tempat yang lain. Ini adalah ahlaq yang terpuji.
  9. Apabila diberinya sesuap makanan, maka ia memakannya dengan lahap dan rela menginap sejenak di tempat yangbersangkutan. Sikap demikian adalah sikapnya orang yang qonaah.
  10. Kemanapun ia pergi, pantang membawa bekal. Ini adalah sifatnya ahli tawakal.

Subhanallah, ternyata dibalik sifat najisnya anjing, Allah Swt. telah karuniakan berbagai sifat anjing yang dapat menjadi pelajaran bagi manusia. Dan tentunya masih banyak sifat-sifat mahluk lainnya yang Allah titipkan untuk menjadi pelajaran bagi manusia. Ada kambing, unta, burung, semut, lebah, yang didalam Allah titipkan kebesaranNya untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang berakal.


Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »

Kategori : Renungan

Keluar Bersama Keringatnya

2 04 2007

Keluar Bersama Keringatnya

KEMATIAN dan matahari tak dapat ditatap terus-menerus.” Ucapan penulis
Prancis, La Rochefoucauld, yang tertulis pada buku Metode Menjemput Maut
Perspektif Sufistik Al-Ghazali itu secara utuh mencerminkan sikap manusia
modern terhadap persoalan yang menggugah sekaligus paling menakutkan:
kematian!
Buku terbitan Mizan itu setidaknya mengingatkan kita tentang betapa singkat
dan rentannya kehidupan ini, yang mungkin tidak menggembirakan atau malah
mendatangkan perasaan tidak nyaman. Karya teolog Islam yang hampir 900 tahun
ini tetap relevan disimak. Al-Ghazali adalah tokoh yang mengesankan. “Karena
dia, orang lumpuh bisa berlari. Dan si bisu mampu bernyanyi.”

Di buku ini, Al-Ghazali membawa pembaca mengunjungi tingkatan alam sesudah
mati: pertemuan dengan malaikat di alam kubur, hari kebangkitan, syafaat
Nabi,
siksaan neraka, keindahan surga, dan -bagi orang yang terpilih- melihat
wajah
Tuhan.

Sufisme memang mewarnai karya-karyanya. Simak penuturannya ketika Ibn
Al-Munkadir menangis di ambang ajalnya. “Demi Allah, aku tidak menangisi
suatu
dosa yang kusadari telah kulakukan, namun aku takut diriku telah melakukan
sesuatu yang kuanggap remeh, padahal di sisi Tuhan itu adalah sesuatu yang
besar,” kata Al-Munkadir.

Keputusan Al-Ghazali mengabdikan hidupnya kepada sufisme terutama
dipengaruhi
kesadarannya pada kepastian datangnya maut dan hari kiamat. Ia mengutip
ucapan
Aisyah r.a. kepada Nabi Muhammad SAW: “Wahai Rasulullah, adakah orang yang
akan dibangkitkan bersama syuhada?” “Ada,” jawab Beliau, “Yaitu orang yang
mengingat maut dua puluh kali dalam sehari semalam.”

Lalu, dikisahkan mengenai Al-Rabi’ bin Khutsaim menjemput maut. Dia menggali
kubur di dalam rumahnya. Dan setiap malam dia terbiasa tidur di situ agar
terus-menerus mengingat kematian. “Sekiranya ingatan akan maut hilang dari
hatiku untuk sesaat saja,” demikian dia sering berkata, “Niscaya hatiku akan
menjadi rusak.”

Rasulullah pernah berkata kepada Abdullah bin Umar: “Di pagi hari janganlah
engkau berbicara dengan dirimu sendiri tentang petang nanti, dan pada petang
hari tentang pagi hari nanti. Ambillah dari hidupmu sesuatu untuk matimu,
dari
kesehatanmu sesuatu untuk masa rentamu karena sesungguhnya, wahai Abdullah,
engkau tidak mengetahui dengan sebutan apa engkau akan dipanggil esok hari.”

Maka, sebelum ajal tiba, Al-Ghazali mengingatkan lima nasihat dari Nabi
Muhammad SAW: “Manfaatkanlah lima hal sebelum tiba lima hal yang lain: masa
mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu
sakitmu,
kekayaanmu sebelum datang kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum datang waktu
sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.”

Kemudian, Ali r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Dua hal yang
paling
kutakuti dari kamu semua, melebihi sesuatu yang lain; menuruti hawa nafsu
dan
berpanjang angan-angan. Sebab, menuruti hawa nafsu akan menghalangi orang
dari
kebenaran, sedangkan berpanjang angan-angan berarti mencintai duniawi.”

Dengan mencintai duniawi seseorang akan berat berpisah dengannya, sehingga
hatinya akan enggan berpikir tentang kematian. Atau dia membenci dan
menghindar darinya.

Dia akan terus mengulur-ulur waktu, dan melalaikan dirinya. Dia menjadi
terikat oleh kesibukan duniawi. Padahal, tak seorang pun yang dapat
memuaskan
hasratnya, sebab satu hasrat akan disusul oleh hasrat lainnya. Sampai
akhirnya
dia disambar oleh kematian pada saat yang tak pernah diperkirakannya. Dan
ketika itu, dia pun hanya bisa meratap menyesalinya.

“Manusia itu seakan-akan dikepung oleh sembilan puluh sembilan macam sebab
kematian, jika kesemua sebab itu gagal mengenainya, dia pasti tidak bisa
mengelak dari usia tua,” kata Nabi.

Nabi pernah bersabda: “Perhatikanlah tiga tanda pada orang yang sekarat.
Jika
keningnya berkeringat, matanya basah oleh air mata, dan bibirnya mengering,
berarti rahmat Allah SWT telah turun kepadanya. Akan tetapi, jika dia
kelihatan seperti orang yang dicekik-cekik, warna kulitnya memerah dan
mulutnya berbusa, maka itulah siksaan Tuhan yang ditimpakan kepadanya.”

Menjelang Nabi Muhammad SAW wafat pada Senin siang -umat ini selalu ditimpa
bencana besar pada Senin- maka Aisyah bertanya kepada Muhammad: “Alangkah
derasnya keringat di kening Anda.” Jawab Beliau, “Wahai Aisyah, roh orang
beriman keluar bersama keringatnya, sedangkan roh orang kafir keluar melalui
kedua rahangnya seperti nyawa keledai.”

Widi Yarmanto


Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »

Kategori : Renungan


Blog Stats

  • 448 hits

 

Maret 2012
S S R K J S M
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Tulisan Terkini

  • Iblis Laqnat
  • Keteladanan Anjing
  • Keluar Bersama Keringatnya

Kategori

  • Hikayat
  • Renungan

Arsip

  • April 2007

Spam Blocked

43 spam comments blocked by
Akismet


Blog pada WordPress.com. Theme: Freshy by Jide.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com